Thursday, August 31, 2006

(tidak) ada apa-apa

Yang orang-orang bilang tentang saya dan dia…

A bilang:
"kirain dari dulu kamu sama dia ada apa-apa. soalnya keliatan dari matanya, dia seneng banget kalo ketemu kamu". ==> this one is still easy to handle

B bilang:
"dia suka sama kamu lagih...keliatan kok". ==> I still can laugh and say “naah..that can’t be true. we’re just friends, y’know”.

C bilang:
"tau tuh napa dia pake ga ngaku segala. padahal aku kan juga udah tau alasan yang sebenernya apa. wong ya keliatan gitu kok". ==> oh really?

D bilang:
"ah, kamu sekolah mulu. kapan nikahnya? ("duh, belum kepikiran kali. masih lama deh kayanya") hahahaha....tuh kan, jawabannya aja udah persis sama kaya dia". ==> kenapa tiba2 nyambungnya ke situ? i thought we’re talking about me.

E bilang:
"masa sih diantara kalian ga pernah ada apa-apa? abis kalian keliatannya cocok. sadar ga kalo mukamu mirip sama dia? bukan mirip yang kakak-adik gitu, tapi mirip yang brarti jodoh". ==> udah ga tau lagi mau komentar apa. totally speechless.

Jadi sebenernya yang buta itu siapa? Saya, dia, apa orang2 ini sih? They’re not making my life any easier. Cape dehh…

Balada Becak Masa Kini

Jaman sudah banyak berubah. Mungkin itu yang ada di benak orang-orang tua sekarang ini. Jaman dulu segalanya nampak lebih sederhana...dan romantis. Dahulu, menunggu surat dari kekasih berarti menunggu datangnya tukang pos, bukannya pergi ke warnet untuk mengecek e-mail. Jalanan belum penuh kendaraan bermotor sehingga sepeda dan becak adalah pilihan jawara untuk mengajak pacar berkencan. Tapi dibandingkan harus mengayuh sepeda sendiri, menaiki becak memiliki keunggulan, diantaranya: cukup lebar untuk dinaiki berdua tapi cukup sempit untuk bersentuhan lengan tanpa merasa kurang ajar, waktu perjalanan cukup lambat hingga bisa digunakan untuk mengobrol tapi kalau telat sampai tujuan bisa menyalahkan si tukang becak, serta menghasilkan angin sepoi-sepoi yang menciptakan efek luar biasa pada geraian rambut panjang tanpa membuatnya berantakan.

Sampai sekarang becak memang masih ada. Walaupun tidak lagi eksis di kota sebesar Jakarta. Becak masih ada di kota-kota kecil, di dekat pasar dan di antara kendaraan bermotor yang merajai jalanan. Para tukang becak masih setia menunggu datangnya penumpang sambil setengah tertidur di dalam becak, menghindari sengatan matahari siang yang naudzubillah kejamnya. Padahal pendapatan mereka juga tak seberapa. Mereka lebih banyak pasrah pada harga yang diusulkan oleh calon penumpang yang seringkali terasa tidak sepadan dengan jarak maupun tingkat kesulitan medan perjalanan. Perlahan-lahan mereka mulai tergusur dan berkurang jumlah dengan sendirinya.

Terakhir kali saya berbagi becak dengan ibu saya, kami tak banyak berbincang. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Saya sibuk merutuk dalam hati, menyesal mengapa tidak lebih memaksa ibu saya untuk naik angkot saja. Secara proporsi tubuh, saya sangat tidak becak-friendly. Dengan badan yang terlalu jangkung untuk dilipat sedemikian rupa ke dalam becak, saya harus terus menunduk agar kepala tidak terbentur rangka penutup becak. Pinggul lebar dan pantat besar juga merupakan permasalahan ekstra. Jalan menanjak membuat saya menahan napas dan berharap itu bisa membuat bobot tubuh menjadi lebih ringan. Apalagi menaksir umur si tukang becak yang harusnya sudah memasuki masa pensiun. Rasanya tak tega untuk tetap duduk dan membiarkan becak merayapi tanjakan dengan susah payah. Singkat kata, saya beranggapan bahwa becak adalah suatu bentuk perbudakan modern.

Saya tak tahu apakah ibu saya berpikiran yang sama. Beliau tetap diam saja. Ketika hampir tiba di tujuan, yaitu rumah nenek saya, barulah saya mengerti. Akhirnya beliau berujar dengan nada khawatir, "Kalau sebecak berdua sama kamu aja udah sesak begini, apalagi sama papa ya? Wah, payah. Memang udah nggak bisa romantis-romantisan lagi nih.."

Ealah, ternyata lagi kangen jaman pacaran dulu toh. Ya jelas beda lah. Jaman dulu kan bapak ibu masih sama-sama kurus...

Sunday, August 13, 2006

ignorance is a bliss, anyone?

Sering banget denger berita tentang nelayan atau petani atau siapalah yang menyalahkan pemerintah atas bencana yang mereka alami. Misalnya nih, nelayan di berbagai pantai yang kena gelombang pasang atau tsunami menuduh pemerintah lalai dan lamban karena belum menyediakan bantuan dan tempat pengungsian. Padahal menurut pandangan saya, kenapa juga mereka bikin rumah terlalu dekat dengan bibir pantai? Kenapa juga mereka membabat hutan bakau yang bisa jadi penahan gelombang? Kenapa mereka baru teriak2 waktu semua sudah terlambat, tempat tinggal hancur, tak bisa melaut karena kapal rusak? Atau contoh dari para petani. Hampir tiap musim tanam mereka ngeluh pada pemerintah yang tidak bisa menurunkan harga pupuk. Harga pupuk mahal padahal nantinya hasil panen tidak diberi harga yang sepadan. Padahal menurut saya, udah banyak juga contoh dari kelompok2 petani yang bisa bikin pupuk organik sendiri dengan hasil panen yang tak kalah bagus dengan yang memakai pupuk buatan pabrik, impor pula (pantes aja mahal). Kalau ditanya kenapa tidak mencoba meniru, katanya tidak begitu yang diinstruksikan pemerintah dan mereka pun juga sudah terbiasa memakai pupuk impor.

Kemarin teman kos saya juga bercerita tentang daerah asalnya, Makassar. Dia bilang, keadaan Sulawesi tuh jauh banget sama Jawa. Jalan trans-Sulawesi aja belum ada. Jalan antar kota atau kabupaten jelek banget, perjalanan antar kabupaten kurang lebih 2 jam, malah ada jembatan yang udah lama banget roboh ga ada yang memperbaiki dan sebagai gantinya cuma ada batang2 pohon kelapa yang diikat jadi satu. Gila, ngeri banget. Selip dikit kan terjun ke jurang atau sungai tuh. Saya tanya, bukannya sekarang sudah ada kementerian percepatan pembangunan daerah tertinggal? Membantukah itu? Kata dia, lumayan, sedikit membaik. Okelah, jaman orde baru dulu mungkin segala sesuatunya sangat tergantung dari pemerintah pusat. Gimana dengan sekarang? Memangnya pemerintah daerah nggak bisa inisiatif bikin proyek2 untuk memajukan daerah masing2? Teman saya tertawa kecut menanggapi pertanyaan2 saya yang kayanya emang terlalu naïf. Dia jawab, presiden boleh ganti, presiden baru boleh punya visi2 baru, tapi orang2 yang kerja di pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, ya tetep itu2 aja. Sudah terlanjur terbiasa dengan pola lama. Gimana mau maju? Lhah, kok dia yang malah balik tanya. Saya jadi prihatin dan kasihan, tapi entah untuk siapa saja. Mungkin untuk semua penduduk Indonesia, termasuk pada saya sendiri.

Sebegitu tergantungnyakah kita pada pemerintah? Semuanya harus nunggu disuruh, diinstruksikan, diajari dsb. Anggep ajalah orang2 besar (jabatannya, perutnya, rumahnya, ukuran garasinya, egonya atau apalah) yang kantornya di Jakarta sono terlalu sibuk dan udah saatnya kita2 ini mengusahakan kemakmuran dan keselamatan masing2. Masa kudu nunggu bencana dulu baru (mungkin) sadar? Itu kalau pemerintah cukup tanggap untuk menangani dan mengatasi. Kalo enggak, ya sama aja lingkaran setan yang muter terus2an disitu. Pusing dah baca koran atau majalah berita di Indonesia. Bukannya sok pinter, tapi kadang permasalahannya terletak pada kebodohan dan ketidakacuhan manusianya sendiri terhadap lingkungannya masing2. Sometimes you wish you could do something, but you don't know where to start. Apa gara2 saya juga termasuk tipe yang nunggu instruksi dari atasan?

-niken, yang tidak bisa untuk tidak kelihatan naif -

Olive (yang tidak bersama Popeye)

I don't know what got into me lately. I listen to jazz more than any other kinds of music (ga sengaja denger lagu My Heart tiap kali masuk toko ga ikut diitung yah). Sekitar 2 minggu lalu, pas lagi jalan2 ke Plaza Ambarrukmo dan melawat ke Bulletin (ataw Disc Tarra, ga inget juga), tumben yang disetel bukan Samsons ataw Nidji ataw soundtrack film Heart (hehehe...disebut2 mulu, ada dendam pribadi kayanya yah). Lagunya sih lagu2 lama gitu. Sebangsanya 'Saving All My Love For You', 'How Deep Is Your Love' dan 'Just The Two Of Us'. Tapi vokalnya itu lho, menurut saya sih a lightweight Nina Simone. Tanya punya tanya, ternyata yang nyanyi namanya Olive, vokalis jazz baru dari Indonesia. Sayangnya pas pengen beli, ternyata kasetnya lagi abis, sementara kalo mo beli CD ga ada duitnya. Akhirnya terpaksa nahan penasaran dulu. Baru tadi pas lagi pergi ama nyokap, kesampean juga buat beli.

Dan ternyata saya salah.

Ga bener dengerin lagu2 kaya gini sendirian.

Bayangin aja gini: kamu lagi ada di sebuah kafe di satu hotel berbintang pada Valentine’s Day, menunggu blind date yang tak kunjung datang, padahal kamu udah terlanjur pake baju warna merah mencolok dengan korsase mawar super besar sesuai kesepakatan. Duduknya di meja paling tengah pula. Biar gampang keliatanlah pokoknya. Sementara itu, orang2 disekitarmu berpasang2an menikmati perayaan hari penuh cinta (soalnya hari laen mereka tidak saling mencintai). Kamu jadi brasa salah tempat di waktu yang salah. Satu2nya yang menghibur adalah band yang lagi main di panggung, membawakan lagu ‘It Might Be You’ dengan manisnya. Menghibur sekaligus ironis mengiris trus nancep di hati dalem banget gitu deh aww…

Okay, that one was a product of an overworked imagination.

Tapi beneran, si Olive ini could have done something better than this. Kalo aja dia dapet materi yang lebih bagus (mungkin lagu2 baru dan tidak cuma meng-cover lagu lama kaya sekarang), albumnya bisa kedengeran lebih hebat dari sekedar serangkaian musik latar buat disetel di restoran atau kafe para eksmud. Mungkin album2 berikutnya yah. Nevertheless, saya tetep suka sama suaranya yang empuk ini…

Personal fave tracks: Just the Two of Us, It Might Be You.

P.S. Besok2 pengen beli ‘Jazz Masa Kini’ dari Aksara Records ah. Abisnya terpesona dengan videoklip Indra Azis yang ‘Jakarta City Blues’. Orangnya rada2 ajaib gitu sih.

Sunday, August 06, 2006

bencana ketjil2an

Dimulai dari rusaknya harddisk laptop saya. Sempet menangisi kebodohan saya yang nggak punya backup data2 penting (lagu2 yang 10GB lebih dan foto2 selama di Belanda). Alhamdulillah, pada akhirnya, sebagian besar data bisa selamat. Jadi rada sia2 juga itu air mata.

Minggu lalu, kunci kos saya ketinggalan di Semarang. Sadarnya kapan? Pas udah di Magelang. Bodoh sekali. Padahal sejak semalam sebelum berangkat saya sudah yakin betul itu kunci ada di tas saya. Udah ngebayangin berbagai kejadian dramatis seperti misalnya mencungkil pintu ala maling di pilem2 holiwut. Ga segitunya sih. Ada kunci cadangan kok.

Kemarin subuh, teman kos saya di lantai 2 kemalingan. Kehilangan laptop dan handphone. Benernya didalem tas laptop ada dompet juga. Tapi dasar maling kurang ajar, setelah duit cash diambil, dompetnya dibuang gitu aja di depan pager kos. Kenapa ga sekalian ninggalin tas laptopnya di depan garasi? Berhubung lokasi kamar tidak dekat TKP, tidak ikut diinterogasi polisi. Sayang tidak dipasang pita kuning yang tulisannya Police Line ituh. Padahal pengen dijadiin background poto2. Tapi sempet sok2 investigasi. Evidence: jejak kaki di genteng, jendela tidak terkunci dan kamar sedikit terbuka.

Moga2 besok2 ini ga ada kejadian2 kaya gitu lagih...

Sunday, July 30, 2006

Devil lives in that box

I grew really sick of infotainments. And sadly, that's like the majority of TV shows these days. Those ' celebrities' were there because of various reasons. From scandalous affairs to mundane things like what kind of plushies they brought to the set so they could nap between takes. Jeez, there were village wars in Papua and crazy Israelis destroying other countries out there. Not to mention earthquakes and tsunamis and gas explosions and floods and droughts and many other series of unfortunate events. God bless our President. He hasn't shot himself in the head for having a stupid big mouth sidekick who always manage to make the situation worse by making empty promises. But these infotainments have more 'urgent' news to deliver. It's that pretty sinetron starlet, she might be breaking up with her musician boyfriend because they hasn't seen each other in 10 days. Yep, definitely the end of an era.

Go on change the channels. See what you can find. Sinetrons? They're pathetic. My uncle's girlfriend is in one of 'em. But so sorry to say that she doesn't act any better than the others. Yes, I watched that particular one to see how she's doing. At least she's playing a good girl. So she doesn't have to scream profanities at the top of her lungs with eyes so wide they almost fall out of their sockets. Bless her and her future career.

But in the end, it's better to just turn the tv off.

Dear Mr. Paperbag

Engkau debu dalam mata
Membuat perih saat berkedip
Sepersekian detik lalu hilang
Kemana?, aku tanya
Tak ada jawaban

Biarlah
Saat badai kau pasti kembali
Jatuh luruh dalam genggaman
Lalu jadi berlian

--------------------------------------------------------

After all these years, I still find myself embarassingly nervous being in the same room with him. Let alone trying to hold a civilized conversation. ABG banget sih?

I blame the occasion and the formal outfit.

And of course, I blame the tendency to self-inflict a painful heartache. It's been goin' on forever. I know I'll be fine.

Saturday, June 10, 2006

Junk Of The Hearts

Salah satu kebiasaan jelek saya adalah tidak bisa membuang barang. Lemari dan rak di kamar saya penuh dengan barang2 yang sebenarnya tidak bisa dipakai, tapi saya tak tega membuangnya. Padahal kebanyakan diantaranya memang sudah seharusnya disingkirkan. Entah berapa kali saya diomeli soal kamar yang berantakan atau isi laci yang mirip tempat sampah. Tapi mau bagaimana lagi? Buat saya 'sampah2' ini punya kenangan masing2 yang sulit untuk dihilangkan begitu saja.

Beberapa diantaranya adalah yang saya temukan hari ini. Sebuah kotak plastik yang diselubung karton tipis dengan tulisan tangan seorang kawan. Met ultah, Niken. Hope all your dreams come true. Begitu tulisannya dengan tinta biru metalik. Dan tentu saja saya tidak membuang bungkus kertasnya. Saya melepas pita perekatnya dengan hati2 agar tidak sobek. Saya lipat rapi dan simpan dalam kantung agenda lama yang dulu sering saya bawa kemana2. Sampai sekarang masih ada walaupun mulai menguning dipinggir2nya. Bahkan saya tidak sadar sampai baru saja menemukannya. Isi kotak plastiknya? Tentu saja masih saya pakai hingga sekarang.

Apakah sebegitu pentingnya setiap bagian dari pemberian beberapa tahun lalu tersebut?

Ya. Sangat.

Sayangnya, kecuali kawan saya bisa baca pikiran, dia tak akan pernah tahu soal itu.

Nah, apakah dia akan ingat pada ulang tahun saya tahun ini?

Mungkin iya. Tapi kado yang dulu itu akan tetap jadi yang satu2nya.

blue is my color

if anyone ask, i'll reply:

He's much better off with someone who is NOT like me, and I'm much better off alone.

believe me, it made life easier knowing that other people are happy

Saturday, May 27, 2006

kyaaa....gempaaa!!!

Hukkssss.....sedih banget deh denger berita musibah yang baru kejadian tadi pagi sekitar hampir jam 6 pagi. Ada gempa lumayan gede yang melanda daerah Jogja dan sekitarnya, termasuk Solo, Klaten, dsb. Bahkan di Semarang aja kerasa gempanya. Katanya sih terasa juga sampai Jawa Timur. Dahsyat yak?

Seumur2 baru tadi pagi lho saya ngerasain gempa. Ternyata kaya orang pusing gitu. Semuanya goyang2 kiri-kanan. Mama saya sempet mikir, "Kok pusing ya? Apa jangan2 mau pingsan nih?". Trus papa saya heboh, "Lho, gempa ya? Ayo semua turun!! Harus keluar rumah!!". Saya juga tau sih kalo ada gempa gitu memang harus segera keluar rumah untuk mengantisipasi yang tidak diharapkan. Tapi saya terpaksa gak nurut soalnya jujur aja, situasi saya rada sulit. I was in a middle of umm... an unfinished business in the toilet so i guess unless I saw the walls were cracking and the roof were falling, I'll stick to where I was :D

Yang barusan itu berita ga penting. Berita yang lebih penting saya dapet lewat TV, dan sms teman2 dan sodara2 saya. Ternyata...parah banget kerusakannya di beberapa daerah. Kalo liat tayangan berita tuh yang paling parahnya sampe rumah2 rata sama tanah, korban meninggal sampe ribuan, korban luka2 banyak yang ga ketampung RS, dsb. Kabarnya gempa tersebut berkekuatan sekitar 5.9 skala Richter dan berasal dari Laut Selatan. Daerah Jogja yang terparah ada di daerah Bantul yang emang cuma 40 km dari episentrum. Jeez, it's terrible...

Adik saya, alhamdulillah, entah dapet firasat apa, semalem pulang ke rumah. Padahal 2 hari sebelumnya dia bilang lagi sibuk, banyak tugas dan ga sempet pulang. Sedari pagi dia udah panik berusaha kontak teman2nya di Jogja dan ga ada yang sukses dihubungi. Pada akhirnya, dia dapet berita kalo lantai 2 kos2an dia rubuh sehingga, literally, sekarang beratapkan langit. Ada temen kosnya yang ketimpa genteng dan luka kepala. Mobil temannya rusak parah ketimpa carport. Kamar kos dia keliatannya baik2 aja, dan untungnya, berhubung kemaren long weekend, kebanyakan temen2nya sedang pulang kampung. Tapi berita sedihnya, eyang salah satu temannya meninggal dunia. Yang lebih sedih lagi, ada satu temennya yang tinggal di Bantul, daerah yang kerusakannya paling parah, tidak bisa dihubungi. Ada yang udah berusaha mencari kesana, tapi berhubung hampir semua bangunan udah rata dengan tanah, temannya itu masih tidak diketahui keberadaannya. Moga2 aja temen adik saya itu baik2 saja ya...

Bude saya sekeluarga juga tinggal di Jogja. Sepupu saya, anak bude saya ini, rumahnya terletak diseberang rumah bude. Setelah gempa tadi pagi, rumah bude baik2 saja tapi rumah sepupu saya dikabarkan ambruk. Dan, alhamdulillah lagi, sepupu saya sekeluarga sedang ada di rumah mertuanya jadi mereka baik2 saja. Tetangga2 bude saya juga mengalami rumah ambruk atau genteng berjatuhan atau tembok retak2. Maghrib tadi bude mengabarkan kalau malam ini mereka akan tidur diluar rumah untuk mengantisipasi gempa susulan yang walopun ga sekuat gempa aslinya, tapi siapa tau bikin rumah yang sudah nggak kokoh itu jadi runtuh.

Saya menanyakan juga kabar teman2 saya lewat sms. Siapa tau mereka punya kerabat yang tinggal di Jogja dan sekitarnya. Kelihatannya hampir semua baik2 saja. Dinto kebetulan sedang liburan di Jogja dan merasakan langsung guncangan2 gempa yang katanya kaya "naik kereta sambil tiduran". Kata dia juga, adiknya dengan norak bikin heboh satu perumahan berkat bikin gosip tentang adanya tsunami. Nining sempat panik adiknya ga di rumah dan ga bisa dihubungi. Tapi sekarang udah ketemu dan baik2 aja kok. Eyang teman saya genteng rumahnya berjatuhan dan TVnya pecah. Teman satu lagi rumah budenya tertimpa rumah tetangga walaupun tak ada korban jiwa. Teman lain lagi baik2 saja tapi daerah KKNnya rusak parah. Saya juga sms Shinta dan Remon, siapa tau mereka belum dapet kabar tentang gempa ini. Tapi sampe sekarang mereka berdua kok belum membalas ya? Soalnya setau saya keluarga mereka kan tinggal di Jogja dan Solo. I really hope they're ok..

Teman2, berdoa yuk buat mereka2 yang jadi korban beserta keluarga mereka yang selamat. Urusan Merapi belom beres, ternyata masih ditambah dengan gempa ini. Moga2 mereka kuat ngadepin cobaan yah. Amiiinnn....



*Updates!*

Dapet kabar kalo keluarga Shinta dan Remon baik2 saja. Ah, senangnya : ) Ibunya Remon malah udah buka toko hari ini. Ada klarifikasi berita bahwa rumah sepupu saya tidak ambruk, cuma jendela depan copot dan sedikit rontok langit2nya. But overall, their house is OK. Sebagai tambahan, ada cerita heroik dari bude mengenai tetangga beliau yang berusaha menyelamatkan bayinya. Tapi pada waktu diluar rumah malah tertimpa pagar. Bayinya selamat, tapi tetangga bude tersebut mengalami patah kaki di 2 tempat dan ketika berusaha mendapat pertolongan malah ditolak RS yang memang penuh sesak dengan korban gempa. Berulang kali dirujuk ke RS lain, dari Jogja ke Klaten sampai Solo hingga akhirnya diterima di RS yang ada di Magelang. Can you imagine that? Kena musibah jam 6 pagi dan baru dapet perawatan rumah sakit jam 10 malam!

Adik saya sudah kembali ke Jogja dan sign-up sebagai relawan di RS Sardjito. Sayang sekali, temannya yang tinggal di Bantul itu masih tak jelas bagaimana kabarnya...


Thursday, May 25, 2006

sexual harassment

I wanna know how y'all react if you were in a situation like mine last weekend. Here's the story:

Waktu itu saya lagi di Jakarta dan menginap di rumah tante yang punya anak perempuan 5 tahun nan merepotkan. Keliatan banget kalo anak tante ini sangat kesepian dan tiap kali ada yang bisa jadi temen main, girangnya bukan main. Jadilah saya ikutan repot dan capek diajak kesana kemari meladeni dia main lempar bola, boneka, gendong2, menari2, menyanyi2 dsb. Hiperaktif banget dah.

Tapi masalah yang mau saya ceritain bukan itu. Saya dibikin syok berat waktu dia pamitan mau tidur.

Kita berdua masih duduk diatas tempat tidur waktu tiba2 dia ngomong:

"Nenen mbak Niken besar *staring at my breast*. Aku kalo bobo sambil megangin nenen mama *still staring*."

Reaksi saya? Kayanya sih melotot dikit sambil ketawa grogi trus menggumam entah apa. Belum habis kaget dan bingung, tiba2 dia mencium bibir saya lalu memanjat turun dari tempat tidur. Dengan santai dia keluar kamar, melambai dan bilang, "good night, mbak Niken".

Saya tetap bengong. What was that?

After that I thought, mine? Big? What did she compare 'em to? Her Barbie teacups? She needs to see my friends'. Pasti dia ga bakal minat lagi tidur sama saya atau mamanya :p