Sering banget denger berita tentang nelayan atau petani atau siapalah yang menyalahkan pemerintah atas bencana yang mereka alami. Misalnya nih, nelayan di berbagai pantai yang kena gelombang pasang atau tsunami menuduh pemerintah lalai dan lamban karena belum menyediakan bantuan dan tempat pengungsian. Padahal menurut pandangan saya, kenapa juga mereka bikin rumah terlalu dekat dengan bibir pantai? Kenapa juga mereka membabat hutan bakau yang bisa jadi penahan gelombang? Kenapa mereka baru teriak2 waktu semua sudah terlambat, tempat tinggal hancur, tak bisa melaut karena kapal rusak? Atau contoh dari para petani. Hampir tiap musim tanam mereka ngeluh pada pemerintah yang tidak bisa menurunkan harga pupuk. Harga pupuk mahal padahal nantinya hasil panen tidak diberi harga yang sepadan. Padahal menurut saya, udah banyak juga contoh dari kelompok2 petani yang bisa bikin pupuk organik sendiri dengan hasil panen yang tak kalah bagus dengan yang memakai pupuk buatan pabrik, impor pula (pantes aja mahal). Kalau ditanya kenapa tidak mencoba meniru, katanya tidak begitu yang diinstruksikan pemerintah dan mereka pun juga sudah terbiasa memakai pupuk impor.
Kemarin teman kos saya juga bercerita tentang daerah asalnya, Makassar. Dia bilang, keadaan Sulawesi tuh jauh banget sama Jawa. Jalan trans-Sulawesi aja belum ada. Jalan antar kota atau kabupaten jelek banget, perjalanan antar kabupaten kurang lebih 2 jam, malah ada jembatan yang udah lama banget roboh ga ada yang memperbaiki dan sebagai gantinya cuma ada batang2 pohon kelapa yang diikat jadi satu. Gila, ngeri banget. Selip dikit kan terjun ke jurang atau sungai tuh. Saya tanya, bukannya sekarang sudah ada kementerian percepatan pembangunan daerah tertinggal? Membantukah itu? Kata dia, lumayan, sedikit membaik. Okelah, jaman orde baru dulu mungkin segala sesuatunya sangat tergantung dari pemerintah pusat. Gimana dengan sekarang? Memangnya pemerintah daerah nggak bisa inisiatif bikin proyek2 untuk memajukan daerah masing2? Teman saya tertawa kecut menanggapi pertanyaan2 saya yang kayanya emang terlalu naïf. Dia jawab, presiden boleh ganti, presiden baru boleh punya visi2 baru, tapi orang2 yang kerja di pemerintahan, baik di pusat maupun daerah, ya tetep itu2 aja. Sudah terlanjur terbiasa dengan pola lama. Gimana mau maju? Lhah, kok dia yang malah balik tanya. Saya jadi prihatin dan kasihan, tapi entah untuk siapa saja. Mungkin untuk semua penduduk Indonesia, termasuk pada saya sendiri.
Sebegitu tergantungnyakah kita pada pemerintah? Semuanya harus nunggu disuruh, diinstruksikan, diajari dsb. Anggep ajalah orang2 besar (jabatannya, perutnya, rumahnya, ukuran garasinya, egonya atau apalah) yang kantornya di Jakarta sono terlalu sibuk dan udah saatnya kita2 ini mengusahakan kemakmuran dan keselamatan masing2. Masa kudu nunggu bencana dulu baru (mungkin) sadar? Itu kalau pemerintah cukup tanggap untuk menangani dan mengatasi. Kalo enggak, ya sama aja lingkaran setan yang muter terus2an disitu. Pusing dah baca koran atau majalah berita di Indonesia. Bukannya sok pinter, tapi kadang permasalahannya terletak pada kebodohan dan ketidakacuhan manusianya sendiri terhadap lingkungannya masing2. Sometimes you wish you could do something, but you don't know where to start. Apa gara2 saya juga termasuk tipe yang nunggu instruksi dari atasan?
-niken, yang tidak bisa untuk tidak kelihatan naif -